Skip to content Skip to sidebar Skip to footer
النُّصُوْصُ قَدْ إِنْتِهَى وَالْوَقَائِعُ غَيْرُ مُتَنَهِيَة # صَلِحٌ لَكُلِّ زَمَان وَمَكَان

Akar Kemunculan dan Pengertian Tafsir ‘Ilmi

Dapat kita temukan bahwa awal kemunculan tafsir ‘Ilmi ini telah melintasi beberapa periode. Tepatnya kemunculan tafsir tersebut bertolak dari zaman Abbasiyah sebagai bentuk usaha mengkompromikan teks-teks keagamaan dengan pengetahuan-pengetahuan asing yang diterjemahkan kedalam bahasa Arab. Usaha ini terus berlanjut dan terekspose pada abad ke-5 Hijriyah. Hanya saja, tafsir ‘Ilmi baru bisa berkembang pesat di akhir abad ke-19 hingga sekarang. Hal ini dikarenakan ketertinggalam umat Islam di bidang sains danteknologi dibandingkan dengan orang Barat yang sudah mencapai tingkat kemapanan dalam bidang sains dan teknologi.

Mayoritas ulama tafsir sepakat memasukkan tafsir ‘Ilmi sebagai salah satu corak penafsiran yang secara metodologis merupakan bagian dari metode tafsir Tahlili. yang dipergunakan sebagai perangkat untuk memahami pesan-pesan Tuhan. Kemunculannya bertujuan untuk melihat seberapa jauh nilai kemu’jizatan al-Qur’an dari aspek ilmu pengetahuan dan sains modern berdasarkan prinsip dasar al-Qur’an yang menyatakan bahwa pada dasarnya al-Qur’an mencakup seluruh ilmu pengetahuan, walaupun tidak secara deatil disebutkan didalamnya karena ia memang bukan kitab pengetahuan.

Tafsir ilmi ialah penafsiran al-Qur’an yang menggunakan pendekatan istilah-istilah (term-term) ilmiah dalam rangka mengungkapkan al-Qur’an. tafsir ini berusaha keras untuk melahirkan berbagai cabang ilmu yang berbeda dan melibatkan pemikiran-pemikiran filsafat. Menurut pendukung tafsir ilmy, model penafsiran semacam ini membuka kesempatan yang sangat luas bagi mufassir untuk mengembangkan berbagai potensi keilmuan yang telah dan akan dibentuk dalam dan dari al-Qur’an. al-Qur’an tidak hanya sebagai sumber ilmu agama yang bersifat i’tiqadiyah (keyakinan) dan amaliyah (perbuatan). Ia juga tidak hanya disebut al-‘ulum al-diniyah wal I’tiqadiyah wal amaliyah, tetapi juga meliputi semua ilmu keduniaan (al- ulum al-dunya) yang beraneka ragam jenis dan bilangannya.

Beberapa ulama yang memberi lampu hijau untuk mengembangkan tafsir ilmi ialah al-Ghazali (450-505 H/1057-1111 M), Jalal al-Din al-Suyuti (w.911 H/1505 M), Thanthawi jauhari (1287-1385 H/1870-1939 M). Muhammad Abduh (1265-1323 H/1849-1905 M). namun, tidak sedikit mufassir yang merasa keberatan terhadap penafsiran al-Qur’an yang bersifat ke-ilmu teknologian. Beberapa ulama yang mengingkari kemungkinan pengembangan tafsir ilmy adalah al-Syathibi (w.790 H/1388 M), ibnu Taimiyah (661-728 H/1262-1327 M), M. Rasyid Ridha (1282-1354 H/1865-1935 M), dan Mahmud Syaltut (13``11-1355 H/1839-1936 M).

Adapun pengertian tafsir ‘ilmi atau yang dalam terminologi Jansen disebut sebagai sejarah alam secara sederhana dapat didefinisikan sebagai usaha memahami ayat-ayat al-Qur’an dengan menjadikan penemuan-penemuan sains modern sebagai alat bantunya. Ayat al-Qur’an di sini lebih diorientasikan kepada teks yang secara khusus membicarakan tentang fenomena kealaman atau yang biasa dikenal sebagai al-ayat al-kauniyat. Jadi yang dimaksud dengan tafsir ‘ilmi adalah suatu ijtihad atau usaha keras seorang mufassir dalam mengungkapkan hubungan ayat-ayat kauniyah dalam al-Qur’an dengan penemuan-penemuan sains modern, yang bertujuan untuk memperlihatkan kemukjizatan al-Qur’an.

Tafsir ‘ilmi adalah penafsiran al-Qur’an yang pembahasannya menggunakan pendekatan istilah-istilah (term-term) ilmiah dalam mengungkapkan al-Qur’an, dan seberapa dapat berusaha melahirkan berbagai cabang ilmu pengetahuan yang berbeda dan melibatkan pemikiran-pemikiran filsafat.

Tafsir 'ilmy ada
التفسير الذى يحكم الاصطلاحات العلمية فى عبارات القران, ويجتهد فى استخراج مختلف العلوم والاراء الفلسفية منها

suatu metode penafsiran yang mengukuhkan keterangan atau istilah-istilah ilmiah yang terkandung di dalam perumpamaan-perumpamaan yang terdapat dalam al-Qur’an yang kemudian melahirkan berbagai macam pengetahuan dan teori-teori filsafat.

Tafsir 'ilmi sebagai penafsiran ayat-ayat kawniyyah yang terdapat di dalam al-Qur’an dengan mengaitkannya dengan ilmu pengetahuan modern yang timbul saat sekarang. Dan ada juga sebagian ulama mengartikan Tafsir ilmy’ sebagai sebuah penafsiran terhadap ayat-ayat kawniyyah yang sesuai dengan tuntutan dasar-dasar bahasa, ilmu pengetahuan dan hasil-hasil penelitian alam.

Tafsir ‘ilmi ialah penafsiran al-Qur’an dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan. Perintah untuk menggali pengetahuan berkenaan dengan tanda-tanda Allah pada alam semesta memang banyak dijumpai di dalam al-Qur’an. Inilah alasan yang mendorong para mufasir corak ini untuk menulis tafsirnya.

Secara sederhana tafsir ‘Ilmi dapat didefinisikan sebagai upaya memahami ayat-ayat al-Qur’an dengan menjadikan penemuan-penemuan sains modern sebagai alat bantunya. Sedangkan objek kajiannya adalah dikonsentrasikan kepada ayat-ayat al-Qur’an yang secara khusus ataupun umum membahas fenomena kealaman atau yang biasa dikenal sebagai ayat-ayat kauniah. Oleh karena itu yang dimaksud dengan tafsir ‘Ilmi adalah upaya mufassir menganalisa dan menginterpretasikan ayat-ayat kauniah dengan dibantu penemuan-penemuan sains modern yang bertujuan untuk mengetahui dan memelihara kemu’jizatan al-Qur’an. Dari beberapa definisi tafsir 'ilmi di atas pada intinya adalah merupakan sebuah upaya untuk mengeksplorasi ayat-ayat yang terdapat dalam al-Qur’an khususnya ayat-ayat kawniyyah dengan berbagai cara dan metode sehingga dengan penafsiran ini akan dihasilkan teori-teori baru ilmu pengetahuan ataupun sesuatu yang berkesesuaian dengan ilmu pengetahuan modern yang ada pada saat ini. Sehingga penafsiran ini tidak dianggap sebagai sebuah “kelatahan” yang hanya berusaha menjustifikasi setiap temuan-temuan sains saat ini sebagai sesuatu yang sudah terdapat al-Qur’an.


Referensi :
  1. Lihat M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Jakarta: Mizan, 2007), hlm. 101.
  2. Muhammad Nor Ichwan. Tafsir ‘Ilmiy Memahami Al-Qur’an Melalui Pendekatan Sains Modern. (Yogyakarta: Menara Kudus, 2004) hlm 127
  3. Muhammad Amin Suma. Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an 2. (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001) hlm. 135
  4. M. Husain al-Zahabiy. Opcit. hlm. 474
  5. Sayyid Agil Husin al-Munawwar. Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki (Jakarta: Ciputat Press, 2002) hlm.72
  6. Mursi Ibrahim al-Bayuni. Dirasat fi Tafsir al-Mudhu’iy (Kairo: Dar al-Taufiqiyyah Li al-Thaba’ah, 1970) hlm.20
  7. Quraisy Shihab, dkk. Sejarah dan Ulum Al-Qur’an.(Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999) hlm. 183

1 comment for "Akar Kemunculan dan Pengertian Tafsir ‘Ilmi"