Skip to content Skip to sidebar Skip to footer
النُّصُوْصُ قَدْ إِنْتِهَى وَالْوَقَائِعُ غَيْرُ مُتَنَهِيَة # صَلِحٌ لَكُلِّ زَمَان وَمَكَان

Tafsir : وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ

“Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup.”

Allah telah menjadikan segala yang hidup dari air, baik pohon kayu maupun binatang. Tidak ada benda hidup yang tidak membutuhkan air, bahkan air lah yang menjadi asalnya. Hewan berasal dari nuthfah, sedangkan nuthfah itu adalah air. Tumbuh-tumbuhan juga tidak bisa hidup tanpa air.

Sebagian ulama pada masa sekarang ini berpendapat bahwa segala binatang pada mulanya dijadikan di laut. Baik burung maupun ternak darat adalah berasal dari laut. Airlah unsur yang penting bagi kehidupan sesuatu yang hidup. Hewan bisa hidup sampai 70 hari tanpa mengenyam makanan, jika masih meminum air.[1]


Tafsir al maraghi

“dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup” demikian pula dengan air itu, Dia menghidupkan dan menumbuhkan setiap tumbuhan. Qatadah mengatakan: “Kami menciptakan setiap yang tumbuh dari air”. Maka setiap yang tumbuh itu ialah hewan dan tumbuhan. Sebagian kaum cendekia dewasa kini berpendapat bahwa setiap hewan pada mulanya diciptakan di laut. Maka seluruh jenis burung, binatang melata dan binatang darat itu berasal dari laut. Kemudian setelah melalui masa yang sangat panjang, hewan-hewan itu mempunyai karakter sebagai hewan darat, dan menjadi berjenis-jenis. Untuk membuktikan hal itu, mereka mempunyai banyak bukti.[2]

Tafsir ibnu katsir

Untuk itu Dia berfirman: “Dan dari air, Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” yaitu, mereka menyaksikan berbagai makhluk, satu kejadian demi kejadian secara nyata. Semua itu adalah bukti tentang adanya Maha Pencipta yang berbuat secara bebas lagi Maha kuasa atas apa yang dikehendaki-Nya.[3]

Tafsir jalalain

“Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. Maksudnya airlah yang menjadi penyebab bagi seluruh kehidupan baik manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan. Namun mengapalah orang-orang kafir tiada juga beriman terhadap keesaan Allah.[4]



أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Apakah mereka tetap tidak mau beriman?”

Mengapa mereka tidak memperhatikan dalil-dalil yang telah dikemukakan supaya mereka meyakini adanya Pencipta Yang Maha Kuasa, lalu mereka mengimaninya?[5]

Setelah ayat-ayat yang lalu mengemukakan aneka argumen tentang keesaan Allah swt., baik yang bersifat akli, yakni yang dapat dicerna oleh akal, maupun yang nakli,yaitu yang bersumber dari kitab-kitab suci, kini kaum musyrik diajak untukmenggunakan nalar mereka guna sampai kepada kesimpulan yang sama dengan apa yang dikemukakan itu. Nalar mereka digugah oleh ayat ini dengan menyatakan: Dan apakah orang-orang yang kafir belum juga menyadari apa yang telah Kami jelaskan melalui ayat yang lalu dan tidak melihat, yakni menyaksikan dengan mata hati dan pikiran sejelas mata, bahwa langit dan bumi keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya. Dan Kami jadikan dari air yang tercurah dari langit, yang terdapat di dalam bumi dan yang terpancar dalam bentuk sperma segala sesuatu yang hidup. Maka, apakah mereka buta sehingga mereka tidak juga berimantentang keesaan dan kekuasaan Allah swt.,? atau belum juga percaya bahwa tidak ada satupun dari makhluk yang terdapat di langit dan di bumi yang wajar dipertuhankan?

Di dalam ayat ini juga menerangkan tentang kegunaan air, segala sesuatu yang hidup Allah jadikan dari air dan untuk bertahan hidup pun segala sesuatu yang hidup memerlukan air.


sumber :

[1]Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nuur jilid 3, (Semarang: pustaka rizki putra, 2000), hlm. 2604
[2]Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: CV. Toha Putra), 1989, Hlm. 37-41.
[3]. ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 8, (Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i), 2005, hlm. 446-448.
[4]Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Jilid 2, (Bandung: Sinar Baru Algensindo), 2008, hlm. 126-127.
[5]Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nuur jilid 3, (Semarang: pustaka rizki putra, 2000), hlm. 260
elrosyadi296
elrosyadi296 Seorang Santri Lulusan MA Jurusan IPS, Kuliah Jurusan Tafsir, Ngabdi Ngajar Ngaji, IPA dan Matematika, Hobi Coding Otodidak

Post a Comment for "Tafsir : وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ"