Skip to content Skip to sidebar Skip to footer
النُّصُوْصُ قَدْ إِنْتِهَى وَالْوَقَائِعُ غَيْرُ مُتَنَهِيَة # صَلِحٌ لَكُلِّ زَمَان وَمَكَان

Konsep Manusia Menurut al-Qur’an

Manusia menurut al-Qur’an dimaknai dengan menggunakan beberapa istilah, yaitu Bani (Banu) adam atau Dzurriyat Adam (keturunan, anak cucu Adam), al-insan, al-ins, an-nas atau unas atau al-basyar. Sejalan dengan fungsinya sebagai khalifah dimuka bumi ini, manusia dibekali dengan berbagai instrument sebagai modal dasar dalam menjalankan tugas kekhalifahan. Pada sisi ini manusia berbeda dengan hewan sehingga dalam perspektif islam manusia tidak menjadi objek selayaknya hewan.

Manusia disebut sebagai bani Adam karena dia menunjukkan asal usul yang bermula dari nabi Adam as sehingga dia tahu dan sadar akan jati dirinya. Misalnya, darimana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan kemana dia akan kembali. Penggunaan istilah bani Adam menunjukkan bahwa manusia bukan hasil dari evolusi makhluk anthropus (sejenis kera).

Abdurrahman An-Nahlawi mengatakan manusia menurut pandangan islam meliputi:

  1. Manusia sebagai makhluk yang dimuliakan, artinya Islam tidak memposisikan manusia dalam kehinaan, kerendahan atau tidak berharga seperti binatanag, benda mati atau makhluk lainnya (QS. Al-Isro:70 dan al Hajj: 65).
  2. Manusia sebagai makhluk istimewa dan terpilih. Salah satu anugrah Allah SWT yang diberikan kepada manusia adalah menjadikan manusia mampu membedakan kebaikkan dan kejahatan atau kedurhakaan dari ketakwaan.

Manusia diciptakan oleh Allah dengan segala kesempurnaannya. Manusia diberi akal pikiran sehingga dengan akal tersebut mereka dapat berpikir.Dengan berpikir, manusia mampu mengajukan pertanyaan serta memecahkan masalah. Dengan adanya akal pula, manusia berbeda dari makhluk-makhluk ciptaan Allah yang lain. Islam mendorong manusia agar menggunakan potensi yang dimiliki secara seimbang. Akal yang berlebihan mendorong manusia pada kemajuan materiil yang hebat, namun mengalami kekosongan dalam hal ruhaniyah, sehingga manusia terjebak dalam segala kesombongan yang merusak dirinya sendiri.

Dalam menggunakan potensi-potensinya, manusia harus menjadi makhluk psiko-fisik, berbudaya, dan beragama untuk tetap mempertahankan kapasitas dirinya sebagai makhluk yang paling mulia. Al-Quran menegaskan kualitas dan nilai manusia dengan menggunakan tiga macam istilah yang saling berhubungan satu sama lain, yaitu al-insan, an-nas, al-basyar, dan bani Adam.

a) Al-Insan

Kata al-insan berasal dari kata nasiya yang artinya lupa, menunjukkan adanya hubungan dengan kesadaran diri. Manusia disebut al-insan karena kecenderungannya akan sifat pelupa sehingga memerlukan teguran dan peringatan. Kata al-insan digunakan Al-Quran untuk menunjukkan kepada manusia secara keseluruhan dari totalitas, jiwa, serta raganya. Kata al-insan untuk penyebutan manusia diambil dari asal kata al-uns atau anisa yang artinya jinak dan harmonis, karena pada dasarnya manusia dapat menyesuaikan diri dengan realitas hidup dan lingkungannya.Sedangkan kata an-nas merupakan jamak dari kata al-insan, kata ini digunakan untuk menunjukkan sekelompok manusia, baik dalam arti jenis manusia maupun sekelompok tertentu dari manusia.

Dalam Al Quran kata ins ( انس ) terulang 10 kali, 12 ayat diantaranya berdampingan dengan kata “jin” (جن). Jin adalah jenis makhluk bukan manusia yang hidup di alam yang terindera. Di balik dinding alam kita manusia dan dia tidak mengikuti hukum-hukum.Hukum yang dikenal dalam tata kehidupan manusia.

Sedangkan kata insan (انسان ) terulang 70 kali, kata: al-nas (اناس) terulang 240 kali. Term al-nas (الناس ) menggambarkan manusia yang universal netral sebagai makhluk sosial seperti pernyataan Al Quran QS. Al Hujurat (49): 13

يَأاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍوَّاُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًاوَّقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”. (QS. Al-Hujurat: 13).

Berbeda dengan kata “al-nas” term “insan” yang secara umum menggambarkan manusia yang memiliki potensi atau sifat yang beragam, baik sifat positif maupun negatif. Perhatikan Firman Allah: QS. Al Alaq (96): 4-5

الَّذِيْ عَلَّمَ بِاالْقَلَمْ. عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ

“yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”. (Q.S. al-‘Alaq: 4-5)

كَلاَّ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغَي

“ketahuilah! Sesungguhnya msnusia benar-benar melampaui batas”.

Pada ayat 4-5 Q.S al-‘alaq diatas, Allah swt menegaskan tentang pemberian ilmu melalui kalam (tulisan). Ini merupakan salah satu anugrah terbesar karena dengan tulisan itu satu generasi terdahulu dapat menstransfer ilmu dan pengalamanya kepada suatu generasi yang akan datang kemudian. Sebagai penerima ilmu, manusia (al-insan) ini memiliki potensi dan sifat positif.

Sedangkan ayat 6 surat al-‘alaq menandakan bahwa manusia juga memiliki potensi atau sifat negative yaitu yathgho yakni melampaui batas dengan cara melanggar hokum dan aturan-aturan yang menjerumuskan ke lembah dosa.

b) Al-Basyar

Kata al-basyar dipakai untuk menyebut semua makhluk, baik laki-laki maupun perempuan, baik satu maupun banyak.Kata al-basyar adalah jamak dari kata basyarah yang artinya kulit.Al-Quran menggunakan kata ini sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan satu kali dalam bentuk mutsanna (dual) untuk menunjukkan manusia dari sudut lahiriahnya serta persamaannya dengan manusia seluruhnya. Ayat Al-Quran yang lain mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia sebagai basyar (manusia) melalui tahapan-tahapan sehingga mencapai tahapan kedewasaan, dimana tahapan kedewasaan ini menjadikannya mampu memikul tanggung jawabnya sebagai khalifah di bumi. Al-basyar dipakai untuk menunjukkan dimensi alamiahnya, yang menjadi ciri pokok manusia pada umumnya, seperti makan, minum, dan mati sehingga manusia disebut al-basyar karena manusia cenderung perasa dan emosional sehingga perlu disabarkan dan didamaikan.

Bintu syathi menyatakan bahwa basyar adalah manusia yang sudah diakui keberadaannya manusia dewasa, namun kedewasaan secara jasmani (fisiologis dan biologis) tanpa kedewasaan rohani (psikis).Pernyataan ini didasarkan pada penelusuran ayat tentang basyar dalam susunan redaksi (tarkib) yang menggunakan kata “mitslu” yang berarti seperti. Perhatikan QS Al Kahfi (18): 110.

قُلْ اِنَّمَا اَنَا بَشَرٌ مَّثَلُكُمْ يُوْحَى اِلَيّ

“katakanlah: sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku”.

Basyar dalam ayat ini, menurut Bintu Syathi adalah manusia anak turunan Adam, makhluk fisik yang suka makan dan jalan-jalan ke pasar. Aspek fisik itulah yang membuat pengertian basyar mencakup anak turunan adam keseluruhan.

Berbeda dengan Bintu Syati, H.A Muin Salim menuturkan dalam al-Qur’an ditemukan 32 kali kata basyar adalah manusia dewasa secara fisik dan psikis (biologis dan kejiwaan), sehingga dia mampu bertanggungjawab, sanggup diberikan beban keagamaan bahkan mampu menjalankan tugas khalifah.

c) Bani Adam

Kata Bani ( بنى ) berasal dari kata ban ā( بنى) artinya membina, membangun, mendirikan, menyusun. Jadi Bani Adam artinya susunan keturunan anak cucu anak Nabi Adam dan generasi selanjutnya.Dalam Al Quran term Bani Adam terdapat enam kali terulang 38, seperti bunyi ayat dalam QS. Al Isra (17): 7

Al-Quran memuliakan manusia sebagai makhluk surgawi, yang sedang dalam perjalanan menuju kehidupan spiritual yang suci dan abadi di akhirat kelak, meskipun ia harus melewati rintangan dan cobaan dengan beban dosa ketika melakukan kesalahan di dalam kehidupan dunia. Bahkan, dalam Al-Quran manusia diisyaratkan sebagai makhluk spiritual yang sifat aslinya adalah berpembawaan baik (hanif).Oleh karena itu, kualitas, hakikat, fitrah, dan kesejatian manusia adalah baik, benar, dan indah.Tidak ada makhluk di dunia ini yang memiliki kemuliaan seperti yang dimiliki manusia.Sebaliknya, kualitas yang buruk, salah, dan jelek selalu menjadi batu sandungan bagi manusia untuk meraih predikat berkualitas tersebut.

Manusia dapat dikatakan berkualitas apabila ia memiliki kebebasan untuk berbuat dan berkehendak. Kebebasan yang dimaksud adalah kesadaran untuk mewujudkan kualitas dan nilai dirinya sebagai khalifah Allah di muka bumi secara bertanggung jawab.Kualitas dan nilai manusia dapat diraih apabila manusia memiliki kemampuan untuk mengarahkan naluri bebasnya berdasarkan pertimbangan aqliyah yang dikaruniakan Allah kepadanya dan dibimbing oleh cahaya iman yang menerangi nuraninya yang paling murni.


Sumber :
  1. http://kangasepweb.blogspot.co.id/2015/04/konsep-manusia-menurut-humanisme-dan-al.html
  2. http://www.kompasiana.com/honey95t/konsep-manusia-dalam-al-quran_54f99cfda33311c8568b46cb
elrosyadi296
elrosyadi296 Seorang Santri Lulusan MA Jurusan IPS, Kuliah Jurusan Tafsir, Ngabdi Ngajar Ngaji, IPA dan Matematika, Hobi Coding Otodidak

Post a Comment for "Konsep Manusia Menurut al-Qur’an"