Skip to content Skip to sidebar Skip to footer
النُّصُوْصُ قَدْ إِنْتِهَى وَالْوَقَائِعُ غَيْرُ مُتَنَهِيَة # صَلِحٌ لَكُلِّ زَمَان وَمَكَان

Metode dan Pemikiran Chrishtoph Luxenberg terhadap Al Quran.

Menurut Luxenberg, dengan melakukan kajian semantic terhadap sejumlahkata dalam Alquran Arab yang diambil dari perbendaharaan Bahasa Syiriac, Alquran yang dianut sekarang ini (Mushaf Usmani) adalah salah salin (mistransribed) dan berbeda dengan teks aslinya. Teks aslinya lebih mirip bahasa Aramaic dan naskah asli itu sendiri telah dimusnahkan oleh khalifah Usman.

Dalam bukunya yang berjudul Die Syro-aramaische Lesart des Koran: Ein Beitrag zur Entschlusselung der Koranprache (Cara Membaca Alquran dengan Bahasa Syro-aramaic: Sebuah sumbangsih upaya pemecahan kesukaran memahamibahasa Alquran), Chrishtoph Luxenberg menyatakan pendapatnya tentang Alquran. Setidaknya ada tiga pernyataan Luxenberg tentang Alquran, yaitu:

  1. Bahasa Alquran itu sebenarnya bukan bahasa Arab.
  2. Kosa-kata Alquran berasal dari Syro-Aramaik dan ajarannya pun diambil dari tradisi kitab suci Yahudi dan Kristen-Syiria.
  3. Alquran yang ada tidak sahih, perlu ditinjau kembali dan diedit kembali.

Chirstoph Luxenberg, menyatakan bahwa bahasa Alquran hanya dapat dipahami jika dikembalikan ke bahasa asalnya, Syro-Aramaic. Karena menurutnya, bahasa Alquran bukanlah bahasa Arab. Melainkan Bahasa Syro – Aramaic yang menjadi lingua franca masyarakat Arab pada masa itu.Yaitu masa diturunkannya Alquran pada masyarakat Arab.

Bahasa Syro-Aramaic sendiri adalah Bahasa Syiriac dengan dialek Aramaik. Bahasa ini merupakan bahasa komunikasi tulis di Timur Dekat mulai abad ke-2 sampai 7 Masehi. Digunakan di kawasan Eddesa. Sebuah Negara kota di Mesopotamia. Bahasa ini kemudian menjadi wahana bagi penyebaran agama Kristen dan budaya Syiriac ke wilayah Asia, Malabar dan bagian Timur Cina. Bahasa ini juga menjadi media bagi penyebaran budaya Arameans, Arab dan sebagian Persia. Dalam sejarahnya, Bahasa Syiria-Aramaic ini telah menghasilkan banyak literatur di Timur Dekat sejak abad ke-4. Kemudian keberadaannya tergeser oleh bahasa Arab pada abad ke-7 dan ke-8 Masehi.

Chrishtoph Luxenberg menggunakan pendekatan filologis dalam kajiannya terhadap Alquran. Alasan Chrishtoph menggunakan analisa filologi adalah karena adanya perbedaan qiraat (bacaan) dalam Alquran. Hal inilah yang kemudian mengantarkan Chrishtoph Luxenberg pada kesimpulan bahwa bahasa Arab bukanlah bahasa tulis yang resmi. Melainkan bahasa lisan.

Untuk menguatkan pendapatnya bahwa bahasa Alquran bukanlah bahasa Arab, Luxenberg menunjukkan beberapa ayat yang menurutnya berasal dari Bahasa Syiriac. Berikut adalah beberapa kosakata yang dipermasalahkan oleh Luxenberg:

Ayat : المدثر : 51
Lafadz : فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍ
Tuduhan : Qasurah
Asal Bahasa : Syiriac

Ayat : النسآء : 18
Lafadz : للذينَ يَعْمَلُونَ السَيِّأت
Tuduhan : Sanniyat
Asal Bahasa : Syiriac : sanyata

Ayat : فصلت : 47
Lafadz : قَالُوْا اذَنَّاكَ مَامِنَّا
Tuduhan : Idz-dza-ka
Asal Bahasa : Syiriac

Ayat : القلم : 13
Lafadz : عُتُلٍ بَعْدَ ذالك زَنِيْمٍ
Tuduhan : ‘alin dan ratim
Asal Bahasa : Syiriac : rtim

Ayat : يوسف : 88
Lafadz : وَجِئْنَا بِبِضَاعَةٍ مُزْجَةٍ
Tuduhan : Murajjiyatin
Asal Bahasa : Syiriac : mraggayta

Ayat : الكهف : 61
Lafadz : فِالْبَحْرِسَرَبَا
Tuduhan : Syarya
Asal Bahasa : Syiriac

Selain kosa kata tersebut, Luxenberg juga mengorek-orek surah al-‘Alaq. Ia menyatakan bahwa isi surah al-‘Alaq sama dengan surat al-Fatihah. Kedua surat ini diambil dari liturgi Kristen-Syiriac tentang jamuan malam terakhir jesus.

Pemikiran Luxenberg yang kedua adalah tentang ajaran Islam. Ia menganggap bahwa tradisi ajaran Alquran diambil dari kitab Yahudi dan Kristen-Syiria (Peshitta). Sehingga Alquran yang ada sekarang ini perlu direvisi karena terjadi banyak kesalahan makna dalam penafsirannya oleh para mufassir. Kesimpulan ini didapatkan Luxenberg dari investigasi terhadap perbendaharaan kata Alquran terhadap Bahasa Syiria-aramaic sebagai lingua franca masyarakat Arab pada waktu itu. Menurutnya juga, Bahasa fushah adalah bahasa yang datang kemudian, setelah keberadaan Bahasa Syiria-aramaic di Arabia. Luxenberg juga menyimpulkan bahwa Alquran tidak bisa menggantikan ajaran Yahudi dan Kristen, dua agama pendahulunya. Tapi sebaliknya, Alquran mendekatkan dua ajaran itu pada komunitas Arab.

Satu hal yang penting dari kajiannya Luxenberg adalah bahwa bahasa dan literature Syiria-aramaicyang kemudian melahirkan tradisi tulis adalah ditransmisikan melalui media Kristen. Kemudian Luxenberg menyimpulkan bahwa Alquran adalah turunan Bible dan liturgy Kristen-Syiria.

Misalnya, nama surat al-Fatihah, menurut Luxenberg, kata fatihah berasal dari bahasa Syiria “ptaxa” yang berarti pembukaan. Dalam tradisi Kristen-Syiria, ptaxa harus dibaca sebagai panggilan untuk berpartisipasi dalam sembahyang. Dalam Islam, surat ini juga wajib dibaca dalam salat. Kata-kata lain dalam Alquran seperti quran, hur dan sebagainya juga berasal dari bahasa Syiria.

Terhadap kata Alquran sendiri, Luxenberg menyatakan bahwa kata قرأن yang dipahami sarjana muslim sebagai قرأ (membaca) atau قرن (menghubungkan) adalah keliru. Menurut Luxenberg, قرأن berasal dari kata qeryana (bahasa: Syiriac) yang berarti ajaran liturgy dari Injil kuno.

Tokoh lain yang menggugat bahwa penyebab munculnya perbedaan bacaan Alquran adalah Taufik Adnan Amal. Senada dengan Luxenberg, Adnan juga mengklaim bahwa penyebab munculnya perbedaan bacaan (qiroah) Alquran karena penulisan Alquran yang belum sempurna. Belum sempurna disini diartikan dengan belum digunakannya tanda titik dan harokat. Sehingga satu huruf dapat dibaca dengan banyak versi. Seperti huruf ta’ yang bisa dibaca dengan huruf atau tsa’. Selain itu, meskipun Alquran sudah ditulis dalam satu rasm,tapi masyarakat tetap membacanya sesuai dengan lahjah masing-masing. Dari sinilah di masa mendatang muncul aliran-aliran atau madzhab-madzhab qiro’ah.



Sumber :
  1. Himatil ‘Ula, Problematika Kajian Linguistik Al Quran: Christoph Luxenberg, http://www.academia.edu/35524743/PROBLEMATIKA_KAJIAN_LINGUISTIK_AL_QURAN_CHRISTOPH_LUXENBERG (diakses tanggal 14 Oktiber pukul 13.00).
  2. Khaeruddin Yusuf, Orientalis dan Duplikasi Bahasa AlQuran (Telaah dan Sanggahan atas Karya Christoph Luxenberg), Vol.9 (Diponegoro: Hunafa, 2012), hal 159
  3. Taufiq Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an, (Jakarta: 2011), hal. 338-339.

Post a Comment for "Metode dan Pemikiran Chrishtoph Luxenberg terhadap Al Quran."