Skip to content Skip to sidebar Skip to footer
النُّصُوْصُ قَدْ إِنْتِهَى وَالْوَقَائِعُ غَيْرُ مُتَنَهِيَة # صَلِحٌ لَكُلِّ زَمَان وَمَكَان

Apa itu akhlak?

1. Akhlak

Pengertian

Akhlaq berasal dari bahasa arab, yaitu jama’ dari kata “khuluq” ( خلوق ) secara bahasa kata ini memiliki arti perangai atau yang mencakup diantaranya: sikap, prilaku, sopan, tabi’at, etika, karakter, kepribadian, moral dll. timbang”.

Kemudian Al – Ghozali mendifinisikan akhlak sebagai suatu ungkapan tentang keadaan pada jiwa bagian dalam yang melahirkan macam – macam tindakan dengan mudah, tanpa memerlukan pikiran dan pertimbangan terlebih dahulu.

Golongan Akhlak

Akhlak sendiri dibedakan menjadi dua golongan yakni akhlak terpuji atau akhlakul karimah dan akhlak tercela atau akhlakuk mazmumah.

1. Akhlak Terpuji

Diantara beberapa akhlak terpuji yang seharusnya dimiliki oleh seorang muslim adalah kesopanan, sabar, jujur, derwaman, rendah hati, tutur kata yang lembut dan santun, gigih, rela berkorban, adil, bijaksana,tawakal dan lain sebagainya. Seseorang yang mmeiliki akhlak terpuji biasanya akan selalu menjaga sikap dan tutur katanya kepada orang lain dan merasa bahwa dirinya diawasi oleh Allah SWT. (baca cara meningkatkan akhlak terpuji)

2. Akhlak tercela

Akhlak tercela adalah akhlak yang harus dijauhi oleh muslim karena dapat mendatangkan mudharat baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Contoh akhlak tercela diantaranya adalah dusta (baca bahaya berbohong dan hukumnya dalam islam), iri, dengki, ujub, fitnah, sombong, bakhil, tamak, takabur, hasad, aniaya, ghibah, riya dan sebagainya. Akhlak yang tercela sangat dibenci oleh Allah SWt dan tidak jarang orang yang memilikinya juga tidak disukai oleh masyarakat. (baca juga penyakit hati menurut islam).

Keutamaan Akhlak Dalam Islam

Telah disebutkan sebelumnya pengertian tentang akhlak dan sebagai umat muslim kita tahu bahwa akhlak memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama islam. Beberapa keutamaan mmeiliki akhlak yang terpuji antara lain :

1. Berat timbangannya diakhirat

Seseorang yang memiliki akhlak terpuji disebutkan dalam hadits bahwa ia akan memiliki timbangan yang berat kelak dihari akhir atau kiamat dimana semua amal manusia akan ditimbang, sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut :
“Tidak ada sesuatu yang diletakkan pada timbangan hari kiamat yang lebih berat daripada akhlak yang mulia, dan sesungguhnya orang yang berakhlak mulia bisa mencapai derajat orang yang berpuasa dan shalat.” [HR Tirmidzi]

2. Dicintai Rasul SAW

Rasul SAW diutus tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia didunia. Dan tentu saja Rasul SAW sendiri mencintai manusia yang mmeiliki akhlak yang baik. Dari Jabir RA; Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya yang paling aku cintai dari kalian dan yang paling dekat tempatnya dariku di hari kiamat adalah yang paling mulia akhlaknya, dan yang paling aku benci dari kalian dan yan paling jauh tempatnya dariku di hari kiamat adalah yang banyak bicara, angkuh dalam berbicara, dan sombong.” [Sunan Tirmidzi: Sahih]

3. Memiliki kedudukan yang tinggi

Dalam suatu hadits disebutkan bahwa seseorang yang memiliki akhlak dan budi pekerti yang mulia memiliki kedudukan yang tinggi diakhirat kelak. Rasul SAW bersabda :
“Tidak ada kemelaratan yang lebih parah dari kebodohan dan tidak ada harta (kekayaan) yang lebih bermanfaat dari kesempurnaan akal. Tidak ada kesendirian yang lebih terisolir dari ujub (rasa angkuh) dan tidak ada tolong-menolong yang lebih kokoh dari musyawarah. Tidak ada kesempurnaan akal melebihi perencanaan (yang baik dan matang) dan tidak ada kedudukan yang lebih tinggi dari akhlak yang luhur. Tidak ada wara’ yang lebih baik dari menjaga diri (memelihara harga dan kehormatan diri), dan tidak ada ibadah yang lebih mengesankan dari tafakur (berpikir), serta tidak ada iman yang lebih sempurna dari sifat malu dan sabar.” (HR. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani)

4. Dijamin rumah disurga

Memiliki akhlak yang mulia sangat penting bagi seorang muslim dan keutamaan memiliki akhlak mulia sangatlah besar. Dalamsebuah hadits disebutkan bahwa Rasul menjamin seseorang sebuah rumah disurga apabila ia memiliki akhlak yang mulia. Dari Abu Umamah ra; Rasulullah SAW bersabda:
“Saya menjamin sebuah rumah tepi surga bagi orang meninggalkan debat sekalipun ia benar, dan sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang tidak berbohong sekalipun hanya bergurau, dan rumah di atas surga bagi orang yang mulia akhlaknya.” [HR Abu Daud ]

A. AKHLAQ KEPADA GURU

Guru adalah orang tua kedua, yaitu orang yang mendidik murid-muridnya untuk menjadi lebih baik sebagaimana yang diridhoi Alloh SWT. Sebagaimana wajib hukumnya mematuhi kedua orang tua, maka wajib pula mematuhi perintah para guru selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syari’at agama.

1. Di antara akhlaq kepada guru adalah memuliakan, tidak menghina atau mencaci-maki guru, sebagaimana sabda Rosululloh saw :
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا
Artinya : “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua dan tidak menyayangi orang yang lebih muda.” ( HR. Ahmad dan At-Tirmidzi )

2. Di antara akhlaq kepada guru adalah mendatangi tempat belajar dengan ikhlas dan penuh semangat, sebagaimana sabda Rosululloh saw :
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya : “Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu padanya, Alloh mudahkan baginya dengannya jalan menuju syurga.” ( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah )

3. Di antara akhlaq kepada guru adalah datang ke tempat belajar dengan penampilan yang rapi, sebagaimana sabda Rosululloh saw :
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ
Artinya : “Sesungguhnya Alloh itu indah dan suka kepada keindahan.” ( HR. Ahmad, Muslim dan Al-Hakim )
4. Di antara akhlaq kepada guru yaitu diam memperhatikan ketika guru sedang menjelaskan, sebagaimana hadits Abu Sa’id Al-Khudri ra :
وَ سَكَتَ النَّاسُ كَأَنَّ عَلَى رُءُوسِهِمْ الطَّيْرَ
Artinya : “Orang-orang pun diam seakan-akan ada burung di atas kepala mereka.” ( HR. Al-Bukhori )
Imam Sufyan Ats-Tsauri rohimahulloh berkata : “Bila kamu melihat ada anak muda yang bercakap-cakap padahal sang guru sedang menyampaikan ilmu, maka berputus-asalah dari kebaikannya, karena dia sedikit rasa malunya.” ( AR. Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ilas-Sunan )

5. Di antara akhlaq kepada guru adalah bertanya kepada guru bila ada sesuatu yang belum dia mengerti dengan cara baik. Alloh berfirman :
فَاسْأَلُوْا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ
Artinya : “Bertanyalah kepada ahli dzikr ( yakni para ulama ) bila kamu tidak tahu.” ( Qs. An-Nahl : 43 dan Al-Anbiya’ : 7 )

Rosululloh saw bersabda :
أَلاَ سَأَلُوْا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ
Artinya : “Mengapa mereka tidak bertanya ketika tidak tahu ? Bukankah obat dari ketidaktahuan adalah bertanya ?” ( HR. Abu Dawud )

Dan menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada faedahnya, sekedar mengolok-olok atau yang dilatarbelakangi oleh niat yang buruk, oleh karena itu Alloh berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَسْأَلُوْا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan sesuatu yang bila dijawab niscaya akan menyusahkan kalian.” ( Qs. Al-Maidah : 101 )

Rosululloh SAW bersabda :
إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِيْنَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ
Artinya : “Sesungguhnya orang muslim yang paling besar dosanya adalah orang yang bertanya tentang sesuatu yang tidak diharamkan, lantas menjadi diharamkan lantaran pertanyaannya itu.” ( HR. Ahmad, Al-Bukhori dan Muslim )

Ketika bertanya mestinya dilakukan dengan cara dan bahasa yang bagus.
Berkata Imam Maimun bin Mihron : “Pertanyaan yang bagus menunjukkan separuh dari kefahaman.” ( AR. Al-Khothib Al-Baghdadi dalam Al-Jami’ )

6. Di antara akhlaq kepada guru adalah menegur guru bila melakukan kesalahan dengan cara yang penuh hormat, sebagaimana sabda Rosululloh :
الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ , قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ لِلَّهِ وَ لِكِتَابِهِ وَ لِرَسُولِهِ وَ لأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَ عَامَّتِهِمْ
Artinya : “Agama adalah nasihat.” Kami ( Shahabat ) bertanya : “Untuk siapa ?” Beliau menjawab : “Untuk menta’ati Alloh, melaksanakan Kitab-Nya, mengikuti Rosul-Nya untuk para pemimpin kaum muslimin dan untuk orang-orang umum.” ( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dll )

B. AKHLAQ KEPADA TEMAN

1. Di antara akhlaq kepada teman atau kawan, baik teman di sekolah, di lingkungan maupun di tempat-tempat yang lain adalah menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, sebagaimana sabda Rosululloh SAW :
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا
Artinya : “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua dan tidak menyayangi orang yang lebih muda.” ( HR. Ahmad dan At-Tirmidzi )

2. Di antara akhlaq kepada teman adalah bersikap ramah kepadanya, sebagaimana sabda Rosululloh SAW :
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
Artinya : “Senyumanmu kepada wajah saudaramu terhitung shodaqoh bagimu.” ( HSR. At-Tirmidzi )

Rosululloh saw bersabda :
لاَ تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوْفِ شَيْئًا وَ لَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
Artinya : “Jangan kamu remehkan perbuatan baik walaupun sedikit, sekalipun kamu menemui saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” ( HR. Ahmad dan Muslim )

Dalam hadits yang lain beliau bersabda :
حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ : رَدُّ السَّلاَمِ وَ عِيَادَةُ الْمَرِيْضِ وَ اتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ وَ إِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَ تَشْمِيْتُ الْعَاطِسِ
Artinya : “Hak seorang muslim atas muslim yang lainnya ada lima, yaitu : “Menjawab salam, menengoknya orang yang sakit, mengiringi jenazahnya, mendatangi undangannya, dan mendoakan “yarhamukalloh” untuk yang bersin.” ( HR. Ahmad, Al-Bukhori, Muslim dan Ibnu Majah )

3. Di antara akhlaq kepada teman adalah saling tolong-menolong dalam kebaikan, sebagaimana firman Alloh SWT :
وَ تَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَ التَّقْوَى وَ لاَ تَعَاوَنُوْا عَلَى الإِثْمِ وَ الْعُدْوَانِ
Artinya : “Saling tolong-menolonglah di dalam kebajikan dan taqwa, dan janganlah saling tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” ( Qs. Al-Maidah : 2 )

Rosululloh saw bersabda :
مَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
Artinya : “Barangsiapa yang memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan, niscaya Alloh memberi kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat.” ( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmirdzi dan Ibnu Majah )

4. Di antara akhlaq kepada teman tidak mencela atau mengolok-olok, dan tidak memanggilnya dengan panggilan yang buruk, karena Alloh ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُوْنُوْا خَيْرًا مِنْهُمْ وَ لاَ نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَ لا تَلْمِزُوْا أَنْفُسَكُمْ وَ لاَ تَنَابَزُوا بِالأَلْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإِيمَانِ وَ مَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lainnya, boleh jadi yang diolok-olok lebih baik daripada yang mengolok-olok, dan janganlah kaum wanita mengolok-olok wanita yang lainnya, boleh jadi wanita yang diolok-olok lebih baik daripada wanita yang mengolok-olok, jangan pula mencela diri sendiri, dan janganlah memanggil dengan julukan-julukan ( yang jelek ), sejelek-jelek nama adalah kefasiqan setelah iman, barangsiapa yang tidak bertaubat mala mereka itulah orang-orang yang zhalim.” ( Qs. Al-Hujurot : 11 )

5. Di antara akhlaq kepada teman yaitu tidak menggunjing yaitu tidak menyebarkan aib dan kekurangannya. Alloh berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَ لاَ تَجَسَّسُوْا وَ لاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ وَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sebagian prasangka itu adalah dosa. Janganlah kalian saling mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lainnya, apakah salah seorang di antara kalian suka memakan bangkai saudaranya yang sudah mati ? Tentu kalian tidak menyukainya. Bertaqwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” ( Qs. Al-Hujurot : 12 )

Rosululloh saw bersabda :
وَ مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya : “Barangsiapa yang menyembunyikan aib seorang muslim, Alloh pasti akan menutup aibnya pada hari qiamat.” ( HR. Ahmad, Al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud dan At-Tirmidzi )

6. Di antara akhlaq kepada teman yaitu tidak saling mendengki, tidak saling menipu, tidak saling membenci dan tidak saling membelakangi, sebagaimana sabda Rosululloh saw :
لاَ تَحَاسَدُوْا وَ لاَ تَنَاجَشُوْا وَ لاَ تَبَاغَضُوْا وَ لاَ تَدَابَرُوْا
Artinya : “Janganlah kalian saling mendengki, jangan saling menipu, jangan saling membenci dan jangan saling membelakangi !” ( HR. Ahmad dan Muslim )

7. Di antara akhlaq kepada teman yaitu tidak saling menzhalimi, sebagaimana firman Alloh dalam hadits qudsi :
يَا عِبَادِيْ إِنِّيْ حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِيْ وَ جَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوْا
Artinya : “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan zhalim atas diri-Ku, dan Aku pun telah menjadikannya haram di antara kalian maka janganlah kalian saling menzhalimi !” ( HR. Muslim )

Rosululloh saw bersabda :
عَنْ أَنَسٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُوْمًا ! قَالُوْا :يَا رَسُوْلَ اللَّهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا ؟ قَالَ : تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ
Artinya : “Dari Anas ra dia berkata : Rosululloh saw bersabda : “Tolonglah saudaramu dalam keadaan zhalim atau pun dizhalimi !” Para Shahabat pun bertanya : “Wahai Rosululloh, ini bila kami menolongnya dalam keadaan dia dizhalimi, bagaimana kami menolongnya dalam keadaan dia berbuat zhalim ?” Rosul menjawab : “Cegah dia dari melakukannya !” ( HR. Ahmad, Al-Bukhori dan At-Tirmidzi )

8. Di antara akhlaq kepada teman adalah tidak menyuruh berdiri seseorang untuk kemudian dia menduduki tempat duduknya, sebagaimana sabda Rosululloh saw :
لاَ يُقِيْمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ فَيَجْلِسَ فِيهِ وَ لَكِنْ تَفَسَّحُوْا وَ تَوَسَّعُوْا
Artinya : “Tidak layak menyuruh orang lain berdiri dari tempat duduknya kemudian dia duduk padanya, tetapi berlapang-lapanglah dan luaskanlah !” ( HR. Ahmad dan Muslim )

9. Di antara akhlaq kepada teman adalah tidak boleh mendiamkan lebih dari tiga hari, sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam :
وَ لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ
Artinya : “Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot saudaranya lebih dari tiga hari.” ( HR Ahmad, Al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dll )

10. Di antara akhlaq kepada teman adalah saling mengoreksi dengan semangat persaudaraan, sebagaimana sabda Rosululloh saw :
الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ وَ الْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَ يَحُوْطُهُ مِنْ وَرَائِه
Artinya : “Seorang mu’min adalah cermin bagi mu’min lainnya, dan seorang mu’min adalah saudara bagi mu’min yang lainnya, dia mencegahnya dari kerugian dan menjaga ( membela)nya di belakangnya.” ( HHR. Abu Dawud )

11. Di antara akhlaq kepada teman adalah tidak suka mencela dan berkata kotor atau pun kasar, sebagaimana sabda Rosululloh saw :
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَ لاَ اللَّعَّانِ وَ لاَ الْفَاحِشِ وَ لاَ الْبَذِيْءِ
Artinya : “Seorang mu’min bukanlah orang yang suka mencela, tidak suka melaknat, tidak berbuat keji dan tidak berkata kotor.” ( HSR Ahmad dan At-Tirmidzi )

Rosululloh saw juga bersabda :
سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَ قِتَالُهُ كُفْرٌ
Artinya : “Mencela seorang muslim adalah kefasiqan dan memeranginya adalah kekufuran.” ( HR. Ahmad, Al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud, An-Nasai dll )

Dan tidak boleh pula memutuskan hubungan silaturrahim, karena Nabi saw bersabda :
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
Artinya : “Tidak akan masuk syurga orang yang memutuskan hubungan silaturrhim.” ( HR. Ahmad, Al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud dan At-Tirmidzi )

12. Di antara akhlaq kepada teman adalah tidak boleh mencuri dengar pembicaraan yang mereka. Rosululloh saw bersabda :
مَنْ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيْثِ قَوْمٍ وَ هُمْ لَهُ كَارِهُوْنَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ صُبَّ فِي أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya : “Barangsiapa yang berusaha mendengarkan pembicaraan orang-orang yang mereka tidak suka ( untuk didengar pihak lain ) atau mereka menghindarinya niscaya akan dituangkan timah ke dalam telinga mereka pada hari qiyamat.” ( HR. Ahmad dan Al-Bukhori )

13. Di antara akhlaq kepada teman yaitu mema’afkan kesalahan teman-teman, sebagaimana firman Alloh SWT :
وَ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَ أَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِيْنَ
Artinya : “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa mema’afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas ( tanggungan ) Alloh. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim.” ( Qs. Asy-Syuro’ : 40 )

14. Di antara akhlaq dengan teman yaitu memilih teman karib yang baik karena teman karib atau sahabat dekat akan banyak mempengaruhi agama dan akhlak seseorang, sebagaimana sabda Rosululloh saw :
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِطُ
Artinya : “Seseorang berdasarkan agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian meneliti dengan siapa dia bergaul.” ( HHR Ahmad )

C. Akhlak Kepada Orang Tua

  • Seorang anak dilarang membentak, memarahi atau bersuara keras terhadap kedua orang tua.
  • Lebih bertambah umur kedua orang tua, hendaknya lebih diperhatikan oleh anak-anaknya.
Kedua hal diatas sesuai dengan Firman Allah dalam Qs. Al – Isra, ayat 23 :
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٲلِدَيۡنِ إِحۡسَـٰنًا‌ۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡڪِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ۬ وَلَا تَنۡہَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلاً۬ ڪَرِيمً۬ا (٢٣
Artinya : “Dan tuhanmu telah mewajibkan supaya kamu jangan menyembah selain dari pada – Nya dan berbuat baiklah kamu kepada kedua ibu bapak .Apabila mereka atau salah seorang dari mereka telah tua, janganlah kamu berkata kepada keduanya dengan perkataan “ ah “ dan jangalah engkau gertak mereka tetapi ucapkanlah kepada mereka dengan kata – kata yang sopan lagi lembut”

Diperintahkan kepada setiap anak agar selalu merendahkan diri kepada kedua orang tua dengan penuh kasih sayang, sesuai dengan firman Allah dalam Qs. Al – Isra, ayat 24 :
وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرً۬ا (٢٤
Artinya : “Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya (ibu bapak) dengan penuh kasih saying.”

Diperintahkan kepada seorang anak agar selalu mendo’akan kedua orang tua dengan do’a :
“Ya Allah ampunilah aku dan ibu bapakku serta kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mengasuh aku diwaktu kecil”

Jangan durhaka kepada orang tua karena hal itu akan mendatangkan murka Allah dan tidak akan masuk surga, sebagaimana disebutkan dalam Hadits
“Keridlaan Allah dalam keridlaan ibu bapak dan murka Allah dalam kemurkaan ibu bapak”. (HR.At-Thabrani)

Dan juga terdapat dalam hadist
“Segala dosa akan dapat ditangguhkan Allah balasannya sampai hari kiamat, kecuali dosa durhaka kepada ibu bapak. Maka Allah akan menyegerakan akibatnya kepada pelakunya didunia sebelum ajalnya tiba”. (HR.At- Thabrani dan Hakim)

Dan dalam hadist
“Tiga golongan manusia yang tidak akan masuk surga : orang yang mendurhakai ibu bapaknya, pelacur yang tidak punya malu, wanita yang menyerupai kaum pria”. (HR.An- Nasa’I dan Hakim)

Disunahkan agar tetap berbuat baik kepada kedus orang tua walaupun keduanya atau salah satunya telah meninggal yaitu dengan :
  1. Mendo’akan rahmat bagi keduanya.
  2. Memohon ampun atas dosa-dosa keduanya.
  3. Melaksanakan janjinya yang belum dilaksanakan.
  4. Menyambung shillaturrahmi kepada sahabat-sahabat orang tua.
(hal diatas sesuai dengan HR.Abu Daud )

Allah memerintahkan agar berbakti kepada kedua orang tua , barang siapa tidak berbuat baik kepada kedua orang tua maka ia telah berbuat durhaka dan perbuatan durhaka adalah sifat syaithan.

Sebagaimana tedapat dalam Qs. Maryam ayat 14 dan 44 :
وَبَرَّۢا بِوَٲلِدَيۡهِ وَلَمۡ يَكُن جَبَّارًا عَصِيًّ۬ا (١٤
Artinya : “Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya dan bukanlah ia orang yang sombonglagi durhaka.” (Qs.Maryam :14)

يَـٰٓأَبَتِ لَا تَعۡبُدِ ٱلشَّيۡطَـٰنَ‌ۖ إِنَّ ٱلشَّيۡطَـٰنَ كَانَ لِلرَّحۡمَـٰنِ عَصِيًّ۬ا (٤٤
Artinya : “Wahai bapakku , janganlah kamu menyembah syaithan, sesungguhnya syaithan itu durhaka kepada tuhan yang maha pemurah.” (Qs.Maryam : 44)

Demikian pentingnya akhlak kepada ibu sehingga sehingga Rasullulah SAW bersabda : “Bahwa surga itu berada dibawah telapak kaki ibu”. (HR.An-Nasa’I dan Ibnu Majah)

Dalam penghormatan kepada ibu bapak akan membawa dampak positif bagi perkembangan jiwa anak-anak kita kelak
“Berbuat baiklah kepada bapakmu, niscaya kamu akan diperlakukan demikian oleh anak-anakmu”.(HR.At-Thabrani dan Hakim).

Perintah ihsan diletakkan oleh Allah dalam Al-Qur’an langsung sesudah perintah beribadah hanya kepada Nya dan berbuat baik kepada ibu bapak .:

Sebagaimana firman Allah :

وَإِذۡ أَخَذۡنَا مِيثَـٰقَ بَنِىٓ إِسۡرَٲٓءِيلَ لَا تَعۡبُدُونَ إِلَّا ٱللَّهَ وَبِٱلۡوَٲلِدَيۡنِ إِحۡسَانً۬… (٨٣
Artinya : “Dan ingatlah Ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil yaitu:”Janganlah kamu menyembah selain Allah dan berbuat baiklah kepada ibu bapak …" (QS. Al Baqarah: 83)

Allah SWT juga berfirman:

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ بِوَٲلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُ ۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٍ۬ وَفِصَـٰلُهُ ۥ فِى عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡڪُرۡ لِى وَلِوَٲلِدَيۡكَ إِلَىَّ ٱلۡمَصِيرُ (١٤
Artinya : “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik ) kepada kedua ibu bapaknya , ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah dan menyampihnya dalam dua tahun.Bersyukurlah kepadaKu dan kepada ibu bapak,hanya kepadaKulah kembalimu.” (QS. Luqman:14)

Rosulullah SAW meletakkan birrul walidain sesudah salat tepat waktu dan menempati urutan kedua dari amalan yang terbaik. Rasulullah bersabda:
“Diriwayatkan dari Abu Abdirrahman Abdullah ibn Mas’ud Ra. Dia berkata “Aku bertanya kepada rosulullah :”Apa yang disukai oleh Allah SWT?” Beliau menjaw ab:”Salat tepat pada waktunya.”Aku bertanya lagi:”Kemudian apa?”Beliau menjawab:”Birrul walidain .”Kemudian aku bertanya lagi: ”Seterusnya apa?”Beliau menjawab:”Jihad Fi sabilillah.” (HR. Mutafaqun ‘alaih)

Dari QS. Al baqarah : 83 dan Hadits diatas, Allah dan rasul-Nya menempatkan orang tua pada posisi yang sangat istimewa, sehingga berbuat baik kepada orang tua menempati posisi yang mulia, dan durhaka kepada orang tua menempati posisi yang sangat hina.

Bentuk-bentuk birrul walidain

Cara anak agar dapat mewujudkan birrul walidain antara lain:

1. Mengikuti keinginan dan saran orang tua dalam berbagai aspek kehidupan baik masalah pendidikan , pekerjaan , jodoh maupun masalah lain asal tidak bertentangan dengan agama . 

Sesuai dengan firman Allah dalam QS. Luqman 15 :
وَإِن جَـٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِى مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌ۬ فَلَا تُطِعۡهُمَا‌ۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِى ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفً۬ا‌ۖ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَىَّ‌ۚ ثُمَّ إِلَىَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُڪُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ (١٥
Artinya : “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya didunia dengan baik.”

2. Menghormati dan memuliakan kedua orang tua dengan penuh kasih sayang dan terima kasih karena tidak mungkin seorang anak dapat membalas jasa-jasa kedua orang tuanya. Cara kita menghormati orang tua adalah memanggil dengan panggilan yang menunjukkan hormat, berbicara dengan lemah lembut dan tidak mengucapkan kata-kata yang kasar (terlebih apabila mereka sudah berusia lanjut) , dan pamit ketika meninggalkan rumah

3. Membantu ibu bapak secara fisik dan materiil. Cara membantu orang tua secara fisik misalnya mengerjakan pekerjaan rumah, sedangkan secara materiil adalah apabila kita sudah mempunyai penghasilan kita member ikan sebagian penghasilan kepada kedua orang tua.

4. Mendo’akan kedua orang tua agar diampuni dosa-dosanya, diberikan rizki dan lain-lain

5. Birrul walidain dapat diteruskan meskipun orang tua telah meninggal. Diantaranya : menyelenggarakan jenazah dengan sebaik- baiknya, melunasi utang- utangnya, melaksanakan wasiatnya, meneruskan silaturrahim yang dibinanya dimasa hidup mereka, memuliakan sahabat- sahabatnya dan mendo’akannya.
elrosyadi296
elrosyadi296 Seorang Santri Lulusan MA Jurusan IPS, Kuliah Jurusan Tafsir, Ngabdi Ngajar Ngaji, IPA dan Matematika, Hobi Coding Otodidak

Post a Comment for "Apa itu akhlak?"