Skip to content Skip to sidebar Skip to footer
النُّصُوْصُ قَدْ إِنْتِهَى وَالْوَقَائِعُ غَيْرُ مُتَنَهِيَة # صَلِحٌ لَكُلِّ زَمَان وَمَكَان

Biografi al-Syinqithi

1. Kelahiran


Nama lengkap penulis tafsir Adhwa al-Bayan adalah Muhammad al-Amin bin Muhammad bin Mukhtar Al Jilani Asy-Syinqithiy (wafat 1393). Adapun nama bapaknya ialah Muhammad Al-Mukhtar bin Abdul Qadir bin Muhammad bin Ahmad Nuh bin Muhammad bin Sayidi Ahmad bin Al-Mukhtar. Nasab qabilah (suku)nya kembali ke suku himyar. Syaikh Asy-Syinqithiy lahir di Tanbeh provinsi Kifa Syinqith pada tahun 1325 H (1907 M) atau yang sekarang dikenal sebagai Mauritania dan menjadi laqab para ulama Mauritania yang dikenal yakni sebuah Negara Islam di benua Afrika yang berbatasan dengan Sinegal, Mali, dan al-Jazair (Algeria). Syinqith sekarang juga masih di pakai sebagai nama sebuah kampung di bagian Barat Laut Mauritania.
Adapun Jakni adalah nama sukunya yang diambil dari nama nenek moyangnya Jakin al-Abar. Suku ini adalah orang-orang Arab yang tinggal di Syinqith. Anggota suku ini dikenal sebagai kalangan terpelajar. Aktifitas belajar dan menuntut ilmu adalah tradisi mereka baik ketika mukim maupun dalam perjalanan.


2. Studi dan Guru-Gurunya


Syaikh Muhammad al-Amin al-Syinqithi berasal dari sebuah keluarga pecinta ilmu dan terhitung kaya. Ayahnya meninggal ketika usianya masih belia. Ia telah berhasil menghafalkan al-Qur’an pada pamannya, Asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad Saw. ketika umurnya 10 tahun. Setelah itu, ia belajar tentang rasm mushhaf Utsmani, tajwid dan tilawah. Ia belajar dari istri pamannya pelajaran sastra Arab, baik nahwu, sharf, nasab dan silsilah Arab, sirah, sejarah. Sedangkan fikih madzhab Maliki, ia belajar ke putra pamannya. Dan semuanya dijalaninya hingga ia berumur 16 tahun. Ia terus mendalami berbagai keilmuan seperti balaghah, tafsir dan hadis ke beberapa ulama yang ada di wilayahnya saat itu. Beliau meninggal pada tahun 1393 H/ 1973 M.
Pada sekitar tahun 1367 H/1947 M. Ia melakukan perjalanan darat menuju Arab Saudi untuk melakukan ibadah haji dengan niat untuk dapat kembali lagi ke negaranya. Akan tetapi, sesampainya di Arab Saudi ia memutuskan untuk menetap di sana. Di antara sebabnya adalah pertemuannya dengan dua orang ulama di Arab Saudi, Abdullah az-Zahim dan Abdul Aziz bin Shalih yang memperkenalkannya pada madzhab Hambali dan manhaj salaf. Ia kemudian melakukan diskusi tentang berbagai persoalan fikih dan akidah yang semakin memantabkannya untuk menetap di Arab Saudi. Dan inilah awal mula ia dikenal sebagai ulama yang menguasai berbagai bidang keilmuan; fikih, tafsir, hadis, bahasa dan sebagainya yang memberinya kesempatan untuk dipercaya sebagai salah seorang pengajar tafsir di Masjid Nabawi.
Di antara guru-buru beliau yang telah berjasa besar dalam mengajarkan berbagai disiplin ilmu syariah kepada beliau ialah:


  • Syaikh Muhammad bin Shalih, yang dikenal dengan Ibnu Ahmad Al-Afram.
  • Syaikh Ahmad Al-Afram bin Muhammad al-Mukhtar.
  • Syaikh Al-Alamah Ahmad bin Umar.
  • Al-Faqih (pakar fikih) yang bernama Muhammad An-Ni’mah bin Zaidan.
  • Al-Faqih Al-Kabir (senior pakar fikih) yang bernama Ahmad bin Mud.
  •  Al-Alamah yang sangat luas ilmunya yang bernama Ahmad Fala bin Aduh, dan masih banyak guru-guru yang lainnya.

Beliau pernah berkata, “Saya telah menimba semua disiplin ilmu dari semua syaikh itu, baik nahwu, sharaf, ushul, balaghah, tafsir dan hadits. Adapun ilmu mantiq dan adabul baths dan munadzarah (adab mengkaji dan berdiskusi) saya dapatkan secara otodidak.”


3. Aktifitas dan Murid-Muridnya


Al-Syanqith menjadi pengajar di lembaga formal dan non formal yakni di Universitas Islam Madinah dan di Masjid Nabawi. Dia telah dua kali menyelesaikan pengajaran tafsir Al-Qur’anul Karim di masjid tersebut.Saat menjadi pengajar tafsir al-Qur’an di masjid Nabawi, asy-Syinqithi menyelesaikan penafsiran seluruh al-Qur’an sebanyak dua kali dan meninggal dunia sebelum menyelesaikan yang ketiga kalinya. Aktifitas ini pada awalnya dijalaninya setiap hari selama satu tahun. Demikian juga ketika berada di Riyadh, dia ditetapkan sebagai pengajar di Fakultas Syariah dan Fakultas Bahasa, dimana dia mengajarkan tafsir dan ushul fiqh. Serta mengajar pula di masjid Syaikh Muhammad bin Ibrahim tempat dia mengajarkan Ushul Fiqh dan Qawa’id al-Ushul.Akan tetapi, ketika beliau mulai menjadi pengajar di Fakultas Syari’ah dan Bahasa di Riyadh, beliau hanya menjalani pengajaran tafsir al-Qur’an di masjid Nabawi pada liburan musim panas. Ini dijalaninya mulai tahun 1371 H/1951 M dan berlanjut hingga tahun 1381 H/1961 M saat ia menjadi pengajar di Universitas Islam (al-Jami’ah al-Islamiyyah) di Madinah. Dan sejak tahun 1385 H/1965 M beliau hanya mengajarkan tafsir al-Qur’an di Masjid Nabawi di bulan Ramadhan. Selain itu, beliau juga mengajar tafsir al-Qur’an di Dar al-Ulum di Madinah pada tahun 1369-1370 H/1949-1950 M.
Dalam mengajar tafsir, dia memulai dengan meminta seorang muridnya untuk membaca ayat yang hendak ditafsirkan. Kemudian dia lanjutkan dengan menjelaskan arti kosa kata, lalu dijelaskan I’rab dan tashrifnya, kemudian dilanjutkan dengan balaghah. Jika ayat itu terkait dengan fiqh, maka dia akan menguraikan kesimpulan hukum yang ada di dalamnya dengan menyebut pendapat-pendapat yang sudah ada dan mentarjih salahsatunya dengan dungungan ushul fiqh, bayan al-Qur’an dan ulum al-Qur’an.
Selain mengajar, al-Syanqith juga merupakan anggota dari organisasi ulama terkemuka di kerajaan Saudi Arabia dan merupakan salah satu anggota pendiri Rabithah Alam Islam.
Karena banyaknya murid-murid beliau, maka tidak dapat diketahui satu per satu mereka. Namun, yang bisa disebutkan antara lain:


  1. Syaikh Abdul Aziz Bin Baz yang tetap menghadiri pelajaran beliau dalam tafsir di Masjid Nabawi ketika beliau sebagai kepala Universitas Islam.
  2. Syaikh Atiyah Muhammad Salim, salah satu yang menyelesaikan tulisan Syaikh Muhammad Al-Amin (sepeninggal beliau) berjudul tafsir Adwa Al- Bayan.
  3. Syaikh Bakr Bin Abdullah Abu Zaid.
  4. Putranya, Syaikh Abdullah Bin Muhammad Al-Amin al- Syanqithi.
  5. Putranya, Syaikh Muhammad Al-Mukhtar Bin Muhammad Al-Amin Asy Syinqithi.

4. Karya-Karyanya

Selama masa hidupnya, asy-Syinqithi telah menghasilkan berbagai karya ilmiah, baik saat ia masih berada di tanah kelahirannya maupun saat ia sudah menetap di Arab Saudi. Di antara karyanya adalah:


  1. Khalish al-Juman yang berisi tentang silsilah atau nasab Arab. Karya ini dihasilkannya saat ia masih remaja.
  2. Rajaz dalam fikih Maliki yang berkaitan dengan bab jual beli, terdiri dari ribuan bait.
  3. Alfiah dalam Ilmu Manthiq.
  4. Nadzm Fara’idh.
  5. Man’ Jawaz al-Majaz fi al-Munazzal li at-Ta’abbud wa al-I’jaz yang berisi tentang pandangannya bahwa majaz tidak boleh diberlakukan dalam ayat-ayat tentang Asma’ wa ash-Shifat.
  6.  Adab al-Bahts wa al-Munadzarah. Karya ini dijadikan sebagai buku pegangan perkuliahan dalam mata kuliah yang sama yang diajarkannya di Universitas Islam Madinah.
  7. Daf’ Iham al-Idhthirab ‘an Ayi al-Qur’an yang berisi tentang penyelesaian ayat-ayat al-Qur’an yang nampak saling bertentangan.
  8. Mudzakkirah al-Ushul ‘ala Raudhah an-Nadzir yang berisi penjelasan (syarh) kitab Raudhan an-Nadzir dalam bidang Ushul Fikih. Ia berusaha memadukan Ushul Fikih dalam madzhab Hambali, Maliki dan Syafi’i dalam karya ini. Kitab ini juga menjadi pegangan dalam mata kuliah Ushul Fikih di Fakultas Syari’ah dan Dakwah Universitas Islam Madinah.
  9. Rihlah al-Hajj ila Baitillah al-Haram. Karya ini adalah kumpulan jawaban asy-Syinqithi terhadap berbagai persoalan yang disampaikan padanya selama masa perjalanannya dari Mauritania ke Arab Saudi untuk haji. Persoalan yang disampaikan meliputi tafsir, hadis, fikih, sastra, bahasa, akidah, manthiq, sejarah dan bahkan ilmu alam.
  10. Adhwa’ al-Bayan yang merupakan karya terbesarnya dalam bidang tafsir yang terdiri dari 7 juz. Hanya saja ia baru menyelesaikannya hingga akhir surat Al-Mujadilah. Dan muridnya, Athiyyah Muhammad Salim, menyelesaikan tafsir ini hingga akhir surat an-Nas.

Selain karya-karya tersebut, asy-Syinqithi juga menghasilkan beberapa makalah dalam berbagai bidang, yaitu fikih, tafsir, hadis, akidah, ushul fikih dan juga bahasa. Selain itu, ia juga telah berperan besar dalam menghasilkan para tokoh dan ulama besar di dunia Islam yang perannya masih terasa hingga saat ini.





Referensi :
  1. Saed As-Saedy, Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, http://www.alsofwa.com/25179/syaikh-muhammad-al-amin-asy-syinqithi-1325-h-1393-h.html diakses 11 Desember pukul 23.00
  2. Sofianasma, Muhammad al-Amin asy-Syinqithi dan Metode Tafsirnya, https://sofianasma.wordpress.com/2013/01/07/muhammad-al-amin-asy-syinqithi-dan-metode-tafsirnya/ diakses 11 Desember pukul 22.00 WIB
  3. Abdul Haris, Distingsi Tafsir Adhwau al-Bayan fi Idhah al-Qur’an bi al-Qur’an, tp, tt.
  4. Abi Wa, Makalah; Tafsir asy-Syinqithi, http://generasimodern.blogspot.com/2015/05/makalah-tafsir-asy-syinqithy.html?m=1 diakses 11 Desember pukul 22.15 WIB
  5. Saed As-Saedy, Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, http://www.alsofwa.com/25179/syaikh-muhammad-al-amin-asy-syinqithi-1325-h-1393-h.html diakses 11 Desember pukul 23.00
  6. S Fatihatul Ulfa, Tafsir Adhwaul Bayan, http://syeevaulfa.blogspot.com/2015/02/tafsir-adhwaul-bayan.html?m=1 diakses 12 Desember pukul 21.00
  7. Abdul Haris, Distingsi Tafsir Adhwau al-Bayan fi Idhah al-Qur’an bi al-Qur’an, tp, tt.
  8. Admin, Syaikh asy-Syinqithi dan Metode Tafsirnya dalam Adhwaul Bayan, http://www.adhwaulbayan.or.id/syaikh-asy-syinqithi-dan-metode-tafsirnya-dalam-adhwaul-bayan/ diakses 11 Desember pukul 23.20

Post a Comment for "Biografi al-Syinqithi"